Semangat baru, vibes baru, dan tentunya sejarah baru. Itulah yang terasa dalam Opening Ceremony HUMAPON 2026 yang digelar oleh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas. Acara ini bukan sekadar perayaan biasa, tapi jadi momen penting karena menandai Hari Ulang Tahun Madrasah ke-111 sekaligus Pondok ke-201—alias resmi masuk ke abad ke-3 perjalanan Bahrul ‘Ulum.
Digelar dengan konsep megah dan penuh makna, pembukaan HUMAPON tahun ini sukses bikin siapa pun yang hadir merasakan atmosfer yang beda. Mulai dari tampilan visual, susunan acara, hingga penampilan drama kolosal bertajuk Amukan Kurusetra, semuanya dikemas dengan totalitas.
Dalam sambutannya, KH Hasib Abdul Wahab (yang akrab disapa Kiai Hasib) menyampaikan bahwa HUMAPON kali ini punya makna yang lebih dalam dari sekadar peringatan tahunan. Beliau menegaskan bahwa momen ini adalah titik awal perjalanan baru bagi Bahrul ‘Ulum di abad ke-3. Artinya, bukan hanya melanjutkan tradisi, tapi juga memperkuat identitas dan kontribusi pesantren di tengah perkembangan zaman.
“Upacara ini merupakan haflah upacara yang istimewa, karena kalian semua para santri dan kita memasuki awal tahun dari abad ke-3 (sejak berdirinya Bahrul ‘Ulum)” Ucap Kiai Hasib
Salah satu ciri khas penting dari HUMAPON sejak zaman dulu, yakni semua rangkaian acara ini murni dikelola oleh santri. Ini jadi bukti nyata bahwa santri Bahrul ‘Ulum nggak cuma fokus ngaji, tapi juga punya skill organisasi, kreativitas, dan tanggung jawab yang kuat.
“Sejak dulu HUMAPON, tidak ada pengasuh yang menjadi panitia, tidak ada santri yang menjadi panitia, ini adalah murni ditangani oleh santri. Ini adalah kreatifitas murni dan asli di tangani santri Bahrul ‘Ulum” Tambah Kiai Hasib.
Meskipun hanya dikelola oleh para santri, tetapi hasilnya gak main-main. Drama kolosal Amukan Kurusetra jadi salah satu puncak acara yang berhasil mencuri perhatian. Dengan kostum yang detail, alur cerita yang kuat, dan penampilan yang total, drama ini nggak cuma jadi hiburan, tapi juga sarat makna tentang perjuangan, konflik, dan nilai kehidupan.
Salah satu kegiatan khas dari HUMAPON sendiri adalah lomba kirab. Kirab sendiri merupakan tradisi arak-arakan yang menampilkan kreativitas, kekompakan, dan identitas masing-masing ribath (asrama). Lomba kirab yang diadakan antar Ribath pondok ini menjadi ajang saling unjuk bakat dan kreatifitas para santri antar ribath.
Tahun ini, persaingan terlihat cukup ketat, baik dari kategori putra maupun putri.
Juara Kirab Putra:
Juara 1: Pondok Pesantren Al-Wahabiyyah 1 (78 poin)
Juara 2: Pondok Pesantren An-Najiyah 2 (77 poin)
Juara Kirab Putri:
Juara 1: Pondok Pesantren An-Najiyah 1 (79,9 poin)
Juara 2: Pondok Pesantren Al-Lathifiyah 1 (78 poin)
Selisih nilai yang tipis menunjukkan bahwa setiap peserta benar-benar memberikan effort maksimal. Mulai dari konsep, kostum, hingga perform di lapangan, semuanya digarap dengan serius.
HUMAPON 2026 bukan sekadar perayaan tahunan, tapi jadi simbol kuat bahwa Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas terus bergerak maju tanpa meninggalkan akar tradisinya. Masuknya abad ke-3 ini bukan hanya soal perjalanan waktu, tapi tentang bagaimana santri mampu menjaga nilai, menghidupkan budaya, sekaligus berinovasi di tengah perubahan zaman. Dari kekompakan kirab hingga megahnya drama kolosal, semua menunjukkan satu hal: masa depan pesantren ini dibangun oleh tangan-tangan santri yang siap berkontribusi lebih luas untuk agama, bangsa, dan masyarakat.
Oleh: Abdullah Machbub al-Kahfi