KH. Abdul Fattah Hasyim merupakan seorang kyai yang memiliki peran penting dalam bidang pendidikan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Memiliki nama asli Abdullah Marwan, sedangkan nama Abdul Fattah beliau dapatkan dari perjalanan ibadah haji. Beliau lahir di desa Kapas, Peterongan, Jombang, tahun 1911 M, dalam penulisan tahun ini ada beberapa pendapat, dan sepengetahuan KH. Abdul Nashir Fattah (putra KH. Fattah Hasyim) beliau lahir sekitar tahun 1914 M.
Beliau merupakan putra pertama dari pasangan KH. Hasyim Idris dengan Ibu Nyai Fatimah Hasbullah, beliau juga keponakan dari KH. Abdul Wahab Hasbullah. Silsilah keturunan KH. Abdul Fattah Hasyim dari ayah maupun ibu mempunyai jalur kenasaban (intisab) sampai pada Pangeran Benowo yang kemudian naik hingga bertemu langsung dengan Jaka Tingkir.
Perjalanan Kyai Fattah dalam menuntut ilmu dimulai dengan belajar kepada ayahnya sendiri yakni KH. Hasyim Idris, beliau di ajari ilmu dasar agama islam dan pengajaran Al-Quran setelah mempunyai bekal ilmu dasar, beliau mulai berkelana untuk mencari ilmu di beberapa pesantren di pulau Jawa. Dimulai dari Pondok Pesantren Mojosari, Nganjuk, yang diasuh oleh KH Zainuddin. Lalu dilanjutkan ke Pondok Pesantren Siwalan Buduran, Sidoarjo.
Setelah itu, Kiai Fattah melanjutkan belajarnya ke Pesantren Tebuireng, di bawah kepengasuhan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Menurut informasi yang didapat dari buku Kiai Nashir sejarah, Haliyah, dan Uswah (2022), bahwa Kiai Fattah termasuk seorang santri istimewa, diceritakan bahwa Kiai Hasyim tidak akan memulai pengajian sebelum Kiai Fattah ada di sampingnya. Kematangan keilmuan Kiai Fattah membuat Kiai Hasyim memintanya menjadi guru, dan juga memintanya menjadi guru badal (pengganti) ketika sedang berhalangan hadir.
KH. Abdul Fattah Hasyim adalah salah satu tokoh yang ikut berjuang mengembangkan Pesantren Tambakberas bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Abdul Hamid Hasbullah, dan KH. Abdurrochim Hasbullah. Dikenal sebagai pecinta ilmu hingga dijuluki Bapak Pendidikan Bahrul Ulum oleh KH. Sholeh Abdul Hamid.
Banyak jasa-jasa beliau yang disumbangkan terhadap pendidikan dan keilmuan, mengisi pengajian rutin malam Ahad di Masjid Gedang (sekarang Masjid Al-Utsmani) adalah salah satu bukti pengabdian beliau didunia keilmuan. Beliau juga dikenal sebagai pecinta Al-Quran, rutinitas yang menunjukkan mahabbah pada Al-Quran adalah mengaji Al-Quran bil ma’na.
Di usia yang keenam puluh enam tahun, akibat sakit yang diderita, dari hari ke hari kondisi kesehatan beliau mulai memburuk. Tepat pada malam Jum’at tanggal 27 April 1977 M, beliau menghembuskan nafas terakhir, dan pada Jum’at pagi beliau dimakamkan di pemakaman keluarga di sebelah selatan gedung Madrasah Muallimin Muallimat. Harapan beliau dimakamkan di tempat tersebut agar ketika sudah di alam baqo’, beliau masih bisa mendengar para santri yang membaca kitab, dan melantunkan bait-bait alfiyyah.
[Yusuf]