Di bulan Rabi'ul Awal ini umat islam terutama di Indonesia sering mengadakan kegiatan peringatan hari lahir nabi yang diiringi dengan pembacaan shalawat, hadist, ayat dan syiir-syiir yang menunjukkan rasa cinta dan rindu kepada nabi Muhammad Saw.
Akan tetapi, dengan banyaknya kegiatan perayaan dalam rangka cinta kepada kanjeng nabi, pernahkah kita merenungkan landasan cinta tersebut, serta mengkaji dan memahami hakikat sebenarnya cinta itu.
Hadist Tentang Cinta Nabi
Mengenai hal itu, terdapat satu hadist yang menjelaskan tentang mahabbah (cinta) terhadap Allah dan RasulNya, yaitu hadist yang diriwayatkan sahabat Anas bin Malik dalam kitab Sahih Bukhary sebagai berikut
“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada segala sesuatu selain keduanya. Dan hingga ia lebih suka dilemparkan ke dalam api neraka daripada kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya. Dan tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku (Rasulullah) lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”
Dalam kitab Syarh Shahih al-Bukhory, Ibnu Bathol menjelaskan mahabbah itu dibagi menjadi tiga, mahabbah mengagungkan sebagaimana cinta kita kepada orang tua, mahabbah kasih sayang seperti kepada anak, dan mahabbah karena kekaguman seperti kepada orang pada umumnya¹.
Makna hadist ini (menurut Imam Ibnu Bathal): seharusnya seseorang lebih mencintai kepada Nabi Muhammad melebihi dari anak, ayah, dan orang lain atas jasanya yang telah menyelamatkan umatnya dari neraka dan memberikan petunjuk supaya tidak tersesat².
Pengaplikasian bentuk cinta tersebut dijelaskan oleh Qodhi 'Iyadh yaitu dengan cara menegakkan sunnah nabi, menjaga syariat, serta berangan-angan seandainya hidup di zamannya agar bisa mengorbankan harta dan jiwa untuk beliau. Hakikat iman, menurut beliau, tidak akan sempurna kecuali dengan meninggikan derajat Nabi ﷺ di atas semua orang tua, anak, pemberi kebaikan, dan siapa pun yang berjasa. Barangsiapa yang tidak meyakini hal ini, maka ia belum beriman dengan sempurna³.
Masuk Surga Modal Cinta
Salah satu kisah unik yang menggambarkan keutamaan mencintai Nabi tercermin dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dalam kitab Shahih al-Bukhary, sebagai berikut:
Seorang Badui berkata kepada Nabi: "Wahai Rasulullah, seseorang mencintai suatu kaum, namun ia belum bergabung dengan mereka. Apakah ia akan bersamanya?"
Rasulullah menjawab:
"Seseorang itu bersama orang yang ia cintai." Kemudian seorang Badui datang menemui Rasulullah ﷺ saat beliau sedang berkhutbah dan bertanya "Wahai Rasulullah, kapan terjadinya Hari Kiamat?"
Beliau ﷺ bertanya: "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?"
Orang itu menjawab: "Aku tidak mempersiapkan banyak amal shalih berupa shalat atau puasa, kecuali bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya."
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Engkau akan bersama orang yang engkau cintai."⁴
Cerita tersebut menunjukkan bagaimana posisi cinta kepada Nabi. Cinta menduduki peringkat pertama karena ia menjadi akar dari seluruh ibadah yang ada, serta menjadi pemicu rasa cinta kepada Allah Swt.
Dengan cinta kepada Nabi membuat kita meneladani sosok paling agung, menghormati orang paling berjasa dalam agama, serta memosisikan beliau sebagai role model utama dalam kehidupan ini. Wallahua'lam.