Oleh : Akhmad Taqiyuddin Mawardi*
Belajar merupakan sebuah kewajiban dan keniscayaan bagi siswa dan santri. Banyak pelajar yang gagal dalam pencarian ilmu, walaupun ia merasa telah belajar dengan giat.
Terdapat banyak literatur pesantren yang membahas tentang tips sukses mencari ilmu, antara lain Ta’limul Muta’allim karya Syaikh Az-Zarnuji dan Adabul Alim Wal Muta’allim karya Syaikhuna Hasyim Asy’ari.
Belajar efektif berarti belajar yang tepat guna, tepat sasaran. Sasaran belajar adalah memahami ilmu dan mampu mengamalkannya. Di sini penulis paparkan beberapa tips belajar efektif berdasar pada literatur pesantren dan metode belajar modern, yaitu :
1. Belajarlah tanpa terpaksa, semata karena Allah.
Mantapkan niat karena Allah. Tata niat. Ingat, innamal a’maalu bin niat. Awal melaksanakan amal baik pasti terasa berat, termasuk belajar. Paksakan diri untuk terus belajar. Lama-lama, pasti belajar akan terasa menyenangkan dan menjadi kebutuhan.
Bila bosan, terdapat metode berbincang dengan diri sendiri. Kita yang ikut hawa nafsu ataukah nafsu yang patuh pada kita. Silahkan lihat di Ta’limul Muta’allim, banyak syi’ir ulama’ terkait hal ini.
Yaa nafsii yaa nafsii laa turkhii 'anil 'amali.
Wahai jiwa, janganlah kau lelah dari beramal sholeh.
Da'ii nafsit takaasula wat tawaanni#wa illaa fatsbutii fii dzil hawaani
Wahai jiwa, tinggalkanlah malas dan lambat (lelet) dalam beraktifitas. Bila kau tetap demikian, tetaplah engkau dalam kehinaan.
Ketika takror, bawa lebih dari satu buku/kitab. Sehingga bila bosan, bisa berganti pada kitab yang lain. Intinya jangan stagnan/fatroh.
2. Kenali kecenderungan belajar anda, apakah condong ke visual, auditori ataukah kinestetik (VAK).
Pelajar dengan kecenderungan visual akan merasa mudah memahami pelajaran bila ia banyak melihat. Biasanya pelajar dengan tipe ini suka belajar dalam suasana hening, penuh konsentrasi dan duduk di bangku paling depan menyimak guru menerangkan.
Pelajar dengan kecenderungan auditori (audio : mendengar), merasa mudah memahami pelajaran dengan mendengarkan penjelasan. Ia lebih cepat memahami penjelasan dari guru ataupun orang lain daripada membaca sendiri. Bila anda merasa sebagai pelajar dengan tipe ini, banyak-banyaklah berdiskusi, dialog, syawir/musyawaroh.
Pelajar bertipe kinestetik lebih berbakat dalam bidang yang banyak terkait dengan gerak atau yang banyak menggunakan panca indera. Pelajar bertipe kinestetik biasanya agak jenuh bila terus menerus di dalam kelas, namun sangat bersemangat dalam kegiatan di luar kelas, seperti olahraga dan kegiatan praktik.
3. Belajar dalam kondisi fisik yang sehat.
Belajar memang penting, namun menjaga kesehatan juga penting. Makanlah makanan bergizi, sebagai suplai energi ketika belajar. Beristirahatlah ketika lelah. Inna fii jasadika alaika haqqun. Sesungguhnya badan memiliki hak untuk istirahat.
4. Perbanyaklah awalan dan akhiran.
Ketika badan lelah, pasti konsentrasi menurun. Para ahli menyatakan maksimal kemampuan manusia berkonsentrasi adalah 2 jam. Oleh karena itu, setelah durasi 2 jam, perlu istirahat sejenak. Berdasarkan penelitian, otak paling banyak mengingat informasi pada bagian awal dan akhir. Oleh karena itu, perlu banyak jeda/intermezzo (awalan dan akhiran) ketika belajar.
Ambil contoh, kita belajar ilmu nahwu selama 2 jam. Setelah belajar tentang I’rob selama 30 menit, istirahatlah sejenak, apakah minum atau sekedar melihat pemandangan. Sesudah itu mulailah lagi. Ini akan memperbanyak informasi awal dan akhir dalam otak.
5. Ketahuilah manfaat mempelajari ilmu yang anda pelajari.
Dalam literatur kitab salaf, ketika mempelajari satu cabang ilmu, terdapat syi’ir inna mabaadi kulli fannin ‘asyaroh. Sepuluh inti dari ilmu. Inilah yang harus diketahui terlebih dahulu oleh pelajar ketika akan mempelajari satu fan ilmu.
Dalam teori quantum learning dan quantum teaching, terdapat istilah AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku). Dengan mengetahui kegunaan suatu ilmu, kita akan bersemangat mempelajarinya. Salafunash sholih memotivasi pelajar guna mempelajari ilmu shorof dengan berkata “ash shorfu ummul uluum wan nahwu abuuha”. Ulama’ nahwu menyatakan wan nahwu aula awwalan an yu’lama, dan sebagainya.
****
Memilih cita-cita dan menggapai masa depan.
mengenai masa depan, Masyayikh menggariskan agar kita tidak perlu terlampau risau akan urusan masa depan. Fokuslah pada mencari ilmu. Laysa shoohibul ilmi mamquutun, tidak ada orang berilmu yang akan tersia-sia. Pasti dibutuhkan dan bermanfaat untuk masyarakat.
Bila anda memang memiliki cita-cita, boleh saja. Bermimpilah, karena bermimpi itu gratis. Teringat pepatah arab "kun rojulan rijluhu 'alas saro, wa ahammu himmatihi fauqots tsuroyya".
Jadilah engkau sebagai seseorang, yang kakinya memang berpijak di atas tanah, tetapi cita-citanya mengangkasa di atas rasi bintang tsuroyya.
Kiai Huda Djazuli, Pesantren Ploso Kediri, sering memotivasi santri-santrinya dengan mengutip pepatah "himmatur rijaal, tuhdimul jibaal".
Cita-cita yang dimiliki seseorang, mampu menghancurkan rintangan, sekalipun sebesar gunung.
Tapi ingat, hidup itu penuh dengan impian, dan impian tak kan digapai kecuali dengan kesungguhan. Al hayaatu bit tamanni, walaysat tamanni illa bil juhdi. Kiai Masduqi Mahfuz, Mergosono Malang, menyatakan perlunya pencari ilmu untuk memaksa dirinya guna menggapai kesuksesan. Beluau menyatakan dengan ungkapan berbahasa Jawa, "niat ingsun mekso awak". Senada dengan ungkapan berbahasa inggris "do the extra miles". Ketika orang lain menempuh perjalanan semisal 1000 mil, kita harus menempuh lebih dari itu. Sehingga kita bisa lebih sukses darinya. Memang tiada keberhasilan tanpa pengorbanan.
****
Lalu bagaimana cara efektif memilih cita-cita yang tepat ?
temukanlah bakat anda, lalu asahlah. Ciri-ciri bakat adalah sesuatu yang kita senangi dan kita tak pernah merasa lelah ketika melakukannya. Itulah yang dinamakan dengan passion. Stephen Covey, Penulis buku 8 habbit, mengistilahkannya dengan inner voice/panggilan jiwa. Segera temukan panggilan jiwa anda, dan inspirasilah orang lain untuk segera menemukan panggilan jiwanya.
Semoga Allah mudahkan kita dalam belajar dan meraih cita-cita…
* penulis adalah dzuriyah, tenaga pendidik dan pengasuh salahsatu ribath PPBU.