Imam Al-Ghazali menjawab pertanyaan mendasar mengenai mengapa ilmu (فضيلة ) dianggap sebagai yang paling utama, dengan memberikan perspektif yang rasional (aqli) setelah mengupas hakikat ilmu secara bertahap.
Hakikat Ilmu: Keinginan Diri dan Dorongan Luar
Ilmu dipandang penting karena ia merupakan sesuatu yang diinginkan (dicari) yang dapat didorong oleh tiga faktor:
1. Dorongan dari Luar (External):
Diinginkan karena adanya kesepakatan eksternal , seperti emas dan dinar yang diinginkan karena fungsinya sebagai alat tukar.
2. Dorongan dari Diri Sendiri (Internal):
Diinginkan karena dirinya sendiri , seperti mencari kebahagiaan abadi yang merupakan keinginan fitrah setiap individu.
3. Dorongan Keduanya (Internal dan External):
Diinginkan karena memungkinkan diri berperan maksimal dan menikmati kehidupan, contohnya adalah kesehatan.
Tujuan Ilmu: Wasilah Menuju Akhirat
Tujuan utama ilmu pengetahuan adalah yang terkait dengan kehidupan kelak (akhirat). Ilmu pengetahuan untuk tujuan kehidupan dunia juga penting dijalani sebagai wasilah (perantara) menuju kehidupan akhirat. Hal ini selaras dengan kaidah:
الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ
“Dunia adalah ladang menuju kehidupan akhirat.“
Oleh karena itu, menjalani kehidupan dunia dengan bekerja secara produktif merupakan keharusan bagi setiap orang yang mencari jalan akhirat.
Klasifikasi Pekerjaan Dunia (Sosiologi Al-Ghazali)
Al-Ghazali, yang juga berperan sebagai sosiolog (suatu jenis ilmu yang tidak umum bagi kebanyakan ilmuwan pada masanya) membagi pekerjaan dunia ke dalam bentuk-bentuk yang seolah-olah mengaitkannya dengan fungsi dan struktur tubuh manusia (jagat cilik atau mikrokosmos):
1. Ushul (Pekerjaan Pokok/Primer)
- الزراعه (Menanam) : Mewakili profesi pencari penghidupan dunia (bertanam, beternak, dagang).
- الحياكه (Menenun/Merajut) : Jenis pekerjaan untuk menutupi tubuh.
- البناء (Membangun/ Civil Engineering) : Jenis pekerjaan yang terkait dengan pembangunan/pembuatan.
- السياسة (Mengatur) : Jenis pekerjaan yang terkait dengan mengatur masyarakat dalam aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, dll.
2. Muayyidah (Pendukung/Sekunder)
- Termasuk jenis ini adalah الحداده (Per-besi-an), atau yang terkait dengan logam, kayu, listrik, dan sejenisnya. (Diibaratkan organ sekunder, seperti sistem pencernaan atau peredaran darah ).
3. Mutammimah (Penyempurna/Tersier)
- Contohnya menumbuk, menghaluskan, dan jenis pekerjaan yang mempermudah pekerjaan lain. (Diibaratkan organ penyempurna, seperti sistem otot dan jari jemari ).
Empat Tingkat Siyasah (Politik)
Di antara empat jenis pekerjaan pokok (Ushul), siyasah (mengatur masyarakat) menduduki posisi paling penting untuk membantu membangun kehidupan yang tertib dan teratur.
Al-Ghazali membagi siyasah (politik) ke dalam empat tingkatan:
1. Politik Para Nabi (سياسة الانبياء) :
Bersifat totalistik karena menyangkut ruang lingkup awam (umum) dan khowas (elite) dengan target kehidupan dhohir dan batin, rohani (akhlak) dan jasmani (attitude) secara menyeluruh. Era kenabian sudah berakhir sepeninggal Rasulullah SAW.
2. Politik Para Raja (سياسة الخلفاء والملوك، والسلاطين) :
Ruang lingkupnya kaum awam dan khowas, tetapi targetnya hanya mengurusi aspek lahiriah (eksternum) saja.
3. Politik Ulama sebagai Pewaris Nabi (سياسة العلماء) :
Ruang lingkupnya adalah kaum khowas (elite) yang terdidik secara literer. Targetnya adalah aspek batin (internum) untuk membantu orang yang mencari ilmu memperbaiki aspek batinnya.
4. Politik Penceramah :
Ruang lingkupnya adalah orang awam dengan target lebih pada perbaikan aspek lahiriah (eksternum).
Secara garis besar, siyasah pasca kenabian menurut Al-Ghazali dibagi menjadi dua: Politik Raja-Raja (duniawi) dan Politik Ulama (ukhrawi).
Al-Ghazali dan Rasionalisme Barat
Pemilahan ini sekaligus menjadi sanggahan bagi ilmuwan Barat yang mengklaim diri sebagai pencetus rasionalisme dan sekularisme. Al-Ghazali lahir pada 450 H / 1058 M dan wafat pada 505 H / 1111 M. Sedangkan Rene Descartes, filosof Barat yang dianggap tokoh aliran Rasionalisme, hidup pada tahun 1596-1650 M. Ada rentang waktu sekitar 500 tahun di antara keduanya. Al-Ghazali yang populer di kalangan pemikir Barat dengan sebutan Algezel, justru telah meletakkan dasar pemikiran yang mendalam jauh sebelum masa Rasionalisme Barat.
Pentingnya Pendalaman Ilmu
Pada akhirnya, seluruh pandangan Al-Ghazali mengenai hakikat dan tujuan ilmu, termasuk klasifikasi pekerjaan dunia dan tingkatan siyasah, bermuara pada satu kunci utama, yakni pendalaman ilmu yang matang. Sebab, pengetahuan tidak akan mencapai tujuannya, yaitu kebahagiaan abadi dan perbaikan internum (batin) serta eksternum (lahiriah), jika hanya dipelajari secara permukaan. Keharusan untuk mendalami ilmu secara serius ini diperkuat oleh sebuah maqalah (pepatah) yang memiliki makna mendalam:
مَنْ تَبَحَّرَ فِي عِلْمٍ/فَنٍّ وَاحِدٍ تَبَحَّرَ فِي سَاءِرِ الْفُنُوْنِ
“Barang siapa yang mendalami satu cabang ilmu dengan matang, dia akan menguasai seluruhnya.”
Ditulis oleh: Hj. Nidaussa’adah, M.Pd.I.