TAMBAKBERAS.COM - Dalam memperingati hari ulang tahunnya yang bertempatan pada umur yang ke-2 abad, Pondok Persantren Bahrul Ulum Jombang mengadakan Forum Multaqo Santri Nasional yang bertemtempat pada 3 titik. Salah satunya bertempat di aula Universitas Wahab Hasbullah (UNWAHA) yang membahas AI (Artificial Intelligence) dan Pendidikan Pondok pesantren acara ini bertempatan pada hari Jumat, 24 oktober 2025 yang bertujuan untuk mengembangan bakat serta menambah wawasa para santri terhadap teknologi.
Acara tersebut di bawakan oleh Dr. Abdullah Hamid M.Pd yang membahas bagaimana kecerdasan buatan bisa digabungkan dengan nilai nilai pondok pesantren. Harus kita ketahui bahwa teknologi tidak bisa menjadi guru yang pertama, tetapi teknologi adalah alat prasarana untuk memperoleh ilmu yang lebih luas dan lebih muda.
AI adala keceerdasan buatan yang pertama kali dikenalkan pada tahun 1995 oleh John McCarthy. AI pada saat ini sangat membantu bagi pendidikan serta dunia kerja mulai dari tutor virtual dan sebagainya. Bahkan kita dapat melakukan belajar di mana saja dan kapan saja serta dapat membantu di dunia pekerjaan dalam membuat apa saja.
AI secara keilmuan di bagi menjadi 4 yaitu:
Teknologi yang memunkinkan komputer belajar dengan data tanpa program khusu
Subit mesin learning yang menggunakan jaringan saraf tiruan untuk menganalisis data di terapkan dalam pengenalan wajah suara dan gambar
yaitu bidang AI untuk memungkinkan komputer memahami bahasa manusia dan Pemrograman Neurolinguistik
cabang kecerdasan buatan AI yang memungkinkan komputer melihat dan menafsirkan informasi visual dari gambar dan video untuk melakukan tugas tertentu.
Dalam hukum islam, menggunakan AI itu diperbolehkan tetapi haram untuk dijadikan sebagai pendoman, menurut ulama NU diharamkan untuk diamalkan dikarnakan AI mempunyai Sifat yang General, memiliki halusinasi, Bias pada training data, ketidakseimbangan atau kesalahan sistematis dalam kumpulan data yang digunakan untuk melatih model kecerdasan buatan.
Dalam banyak kasus, AI bertindak sebagai "kotak hitam" (black box), yang mana kita melihat input dan output, namun sulit memahami secara pasti proses pengambilan keputusannya. Validasi ahli berfungsi sebagai jembatan untuk masalah ini. Ketika terjadi kesalahan, para ahli yang melakukan validasilah yang dapat memberikan pertanggungjawaban, menjelaskan alasan di balik keputusan, dan merekomendasikan perbaikan pada sistem. Ini memastikan bahwa meskipun keputusan dibantu oleh mesin, tanggung jawab etis dan profesional tetap berada di tangan manusia.
“Sesuatu Hasil AI wajib hukumnya untuk divalidasi dulu oleh ahli sebelum diamalkan.” Ucapnya. Ia juga menjelaskan, bahkan dalam hasil jawaban AI yang berhubungan dengan masalah agama, maka ahli yang di tuju adalah para Kiai. Disinilah peran dari santri, Kiai dan pesantren dibutuhkan.
Pernyataan tersebut adalah pengingat krusial bahwa teknologi adalah alat, bukan otoritas tertinggi. Agar AI dapat bermanfaat secara maksimal, ia harus diintegrasikan dengan kebijaksanaan, pengalaman, dan keahlian manusia. Validasi ahli adalah benteng terakhir untuk menjamin bahwa kemajuan AI dilakukan secara aman, etis, dan bertanggung jawab.
Oleh : M Hafiz Romadhon
Editor : Abdullah Machbub