TAMBAKBERAS.COM - Peran vital pesantren sebagai benteng Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan pusat pembangunan peradaban kembali menjadi sorotan utama dalam sebuah diskusi panel. Para akademisi dan tokoh pendidikan menyoroti tantangan kemandirian, penguasaan teknologi dan bahasa asing, hingga urgensi revolusi mental bagi lulusan pesantren di era Indonesia Emas.
Dalam acara yang diadakan di Gedung Serba Guna (GSG) Hasbullah Sa’id, Tambakberas, Jombang tersebut terdapat tiga professor yang memberikan materi berdasarkan penelitiannya masing-masing. Yang mana setiap materinya akan dijelaskan sebagaimana berikut.
Prof. KH. Hadi Arif: Tanggung Jawab Kolektif dan Akses Negara
Dalam paparannya, Prof. KH. Hadi Arif menyoroti beberapa fakta krusial yang harus dihadapi oleh komunitas pesantren saat ini:
1. Akses Negara yang Terbatas: Beliau menekankan bahwa seringkali pesantren tidak memiliki akses memadai dari negara. Padahal, kehadiran negara sangat dibutuhkan untuk mendukung para praktisi pendidikan, kiai, alumni, dan santri yang selama ini secara swadaya menjaga eksistensi pesantren.
2. Minimnya Kontribusi Sukarela: Prof. Hadi Arif juga menyinggung fakta bahwa sangat jarang orang yang memiliki kelebihan harta secara sukarela memberikan sumbangan rutin kepada pesantren. Oleh karena itu, beliau menegaskan bahwa tanggung jawab untuk memajukan pesantren adalah tanggung jawab dari semua pihak.
3. Menghadapi Tantangan Seberat Mbah Wahab: Merujuk pada transformasi pendidikan yang pernah dilalui oleh Mbah Wahab, beliau menyimpulkan bahwa generasi pesantren saat ini memiliki tantangan yang sama beratnya dalam menghadapi perubahan zaman.
Prof. Dr. Drs. H.M. Zainuddin, BA., MA. : Pesantren sebagai Kawah Candradimuka Peradaban
Prof. Dr. Zainuddin, seorang dosen Filsafat dan Sosiologi Agama, memperkuat pandangan tentang posisi strategis pesantren:
1. Penguatan Peran Pesantren: Beliau menyebutkan bahwa Undang-Undang (tanggal disebutkan) telah memperkuat peran pesantren, menjadikannya pusat pembangunan peradaban.
2. Pentingnya Moderasi Beragama dan Kerukunan: Menurutnya, hal terpenting adalah revolusi mental dan moderasi beragama untuk menjaga kerukunan umat. Pesantren memiliki peran penting dalam mengelola keragaman suku, agama, dan status sosial dari berbagai pulau dalam kesatuan Republik Indonesia.
3. Terminologi Sosial Ulama/Kiai: Pesantren adalah 'Kawah Candradimuka' dan tempat berkumpulnya ulama, kiai, dan penuntut ilmu. Ulama dan kiai adalah pewaris perjuangan para Nabi, yang tanpanya masyarakat sulit meneladani Rasul. Beliau menegaskan bahwa predikat ulama melekat pada santri dan pesantren, yang merupakan terminologi sosiologi.
Lulusan yang Siap Hadapi Masa Depan: Lulusan pesantren tidak perlu khawatir dengan pengangguran dan mampu melanjutkan studi tinggi, misalnya ke UIN Malang. Pesantren juga dikenal memiliki sifat ketekunan kiai dalam menghidupkan semangat santri, memungkinkan siapapun, termasuk yang tidak berijazah formal, untuk belajar.
Dalam menghadapi berbagai masalah tersebut, Prof Zainuddin menawarkan beberapa Solusi. Yang mana sorotan masalah utamanya adalah kurangnya skill yang dimiliki oleh santri. Prof. Zainuddin merangkum permasalahannya dalam beberapa poin:
1. Penguasaan Bahasa Asing: Perlu adanya penguatan bahasa asing, tidak hanya Bahasa Arab. Beliau mengkritik problem pesantren salaf yang hanya menguasai maharatul qiroah (keterampilan membaca) namun minim dalam maharatul kalam (keterampilan berbicara/komunikasi). Beliau secara spesifik menyarankan perlunya penguasaan Bahasa Mandarin.
2. Literasi IT dan Keahlian Teknis: Penguasaan Teknologi Informasi (IT) sangat penting. Jika santri ahli di bidang teknik sipil atau arsitektur, maka pesantren akan semakin kokoh secara fisik maupun kelembagaan.
3. Imam Syafii dan Optimisme Generasi: Mengutip Imam Syafii, "Eksistensi seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa," dan mengutip syair Al-Ma'arri tentang optimisme bahwa generasi muda dapat melakukan hal yang tidak dapat dilakukan oleh generasi terdahulu.
Rektor UIN Maliki tersebut menambahkan bahwa, “Kiai masih sangat diperlukan sebagai pengasuh seluruh anak bangsa, dan benteng negara adalah pesantren. Oleh karena itu, kiai juga harus memiliki penguasaan dan pengembangan bahasa-bahasa asing.”
Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rosydiyah, M.Ag : Transformasi Pendidikan di Era Generasi Digital
Prof. Evivatin, Kepala Perpustakaan, membahas bagaimana transformasi pendidikan harus dikawal di bilik pesantren, terutama dalam menghadapi tantangan generasi mendatang.
1. Pesantren sebagai Ruang Segitiga Emas: Beliau mengibaratkan pesantren sebagai 'Segitiga Emas' dan terletak di posisi paling tinggi dalam ruang perguruan tinggi.
2. Menuju Indonesia Emas 2045: Prediksi tahun 2025-2045 penting karena Indonesia sedang menuju Indonesia Emas. Dalam 20 tahun mendatang, kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU) dan jam'iyah akan diisi oleh Generasi Y, Z, dan Alpha yang merupakan digital native. Aksi yang menarik dan fokus pada digital sangat diperlukan untuk menghadapi generasi ini.
3. Meningkatkan Prestasi Literasi Internasional: Beliau menyoroti bahwa prestasi Indonesia dalam kancah internasional (membaca, matematika, dan sains) masih jauh dari kata baik, berada di peringkat dua atau tiga dari bawah.
Prinsip Desain Transformasi Belajar:
o) Pentingnya Diskusi/Musyawarah: Mengutip riset Esdarden (1999) dan kajian beliau sendiri, Prof. Evivatin menekankan bahwa belajar hanya dari membaca memiliki kualitas daya ingat yang kurang. Oleh karena itu, diskusi atau musyawarah (seperti Bahtsul Masail) di pesantren perlu dioptimalkan sebagai salah satu metode belajar yang efektif.
o) Pilihan Jenis Font yang Tepat: Beliau juga menyoroti hal teknis, yakni ketika membuat bahan ajar, font Times New Roman tidak disarankan karena merupakan pilihan formal untuk pekerjaan. Untuk bahan ajar yang lebih efektif dan nyaman dibaca, disarankan menggunakan font Arial, karena font berkaitan erat dengan reading fluency (kelancaran membaca).