Saat pengajian dalam rangka Haul Alm. Almaghfurlah KH. Abdul Hamid Hasbulloh ke 63 dan KH. Abdul Malik Hamid ke 37 di Ribath Al Muhajirin 3 Bahrul Ulum, Sabtu (21/9), KH.Salim Azhar Rois Syuriah NU Paciran menyampaikan bahwa pondok Tambakberas itu adalah salah satu pondok tertua yang penuh dengan barokah, “segala sesuatu kalau barokah pasti tambah baik dan tambah manfaat, sebab definisi barokah adalah Ziyaadatul Khoir”.
Menurut pemaparan beliau dalam mauidhohnya, untuk mengetahui barokah bisa dengan menggunakan dua tanda. Pertama, sesuatu yang semakin lama semakin bertambah baik dan tambah banyak. Kedua, adalah tambahnya manfaat.
“Pondok Tambakberas niki kulo wastani pondok ingkang barokah, kengeng nopo? Dulu saya saat masih nyantri ten mriki sekitar tahun 1966 ngantos 1973 pondoke namung tigo, pondok tengah (pondok induk atawis putra sekarang), pondok kidul (Fathimiyyah) dan pondok lor (Lathifiyyah) niku dulu, lha sakniki wonten 40 an asrama/ribath, semuanya saking dzurriyyah mbah Hasbulloh, termasuk saking mbah Yai Hamid dan Yai Malik yang malam ini kita Hauli, ini menunjukkan pondok Tambakberas mengandung unsur barokah”.
Disamping mengulas tentang keberkahan, beliau juga menyampaikan hal-hal yang menjadi ciri khas Bahrul Ulum. Menurut beliau berdasarkan kajian dan telaah perjalanannya selama nyantri di Bahrul Ulum, ada 4 hal yang menjadi khas mulai dulu hingga sekarang.
"Pondok Bahrul Ulum itu ada 4 hal yang menjadi ciri khas ajaran para Kiainya, dahulu dan Insyaallah sampai sekarang, sebab kulo niki dulu ketika masih mondok disini menangi (bertemu) Kiai-kiai sepuh seperti Mbah Yai wahab Hasbulloh, Yai Fattah, Yai Malik, juga Yai Amanulloh” ungkap beliau yang sempat ngaji kitab Asbah Wannadhoir dan Nasoihud diniyyah kepada Kiai Malik yang masyhur dengan keistiqomahannya.
“Kiai Malik niku kiai muda yang sangat istiqomah dalam mengaji, hampir tidak pernah prei, dulu saya memangginya Gus Malik dan malam ini kulo ngalap berkah dari beliau, termasuk poro Masyayikh” lanjut beliau.
“Kiai Wahab, Kiai Fattah dan Masyayikh lainnya termasuk kiai Malik, beliau-beliau ini mengajarkan kepada santri Tambakberas 4 hal dan itu saya catat sekaligus saya amalkan sampai sekarang. Sholat jamaah, Nderes Al Quran, Mulang (mengajar) kalau sudah kembali ke masyarakat dan Ngopeni NU, empat niku khas Tambakberas”. “Semoga kita semua mendapat barokahnya khususnya para santri mendapat ilmu manfaat barokah sehingga hidup kita ditata yang terbaik oleh Allah SWT" Sambung kiai Salim mengahiri sambutannya.
Dalam perjalanan berikutnya, 4 hal yang menjadi kekhasan Bahrul Ulum yang sudah dipaparkan kiai Salim Azhar, di lengkapi oleh Mbah Wahab dengan aurod Huwal Habib (Burdah) sebagai rutinitas wirid santri saat malam jum’at tiba. demikian Gus Wafi ketua yayasan PPBU menambahkan sejarah perjalanan kekhasan Bahrul Ulum yang tidak dimiliki pesantren lain.
Nampak hadir dalam acara tersebut, KH. Masduqi dari pesantren Rangkah Surabaya, KH. Najib Wahid dari pesantren Nurul Jadid Probolinggo, KH. Imron Hamid dari Pesantren Singosari Malang, KH. Jazuli dari Bangkalan Madura, KH. Taufiq Jalil kepala Kemenag Kab. Jombang dan tentunya keluarga besar Pondok Bahrul Ulum. (sfk)