TAMBAKBERAS.COM - Dalam rangkaian peringatan 2 Abad Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, digelar acara Diklat Konselor Sebaya yang menghadirkan narasumber Prof. Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd., Guru Besar Universitas Negeri Malang sekaligus pakar Bimbingan dan Konseling Multibudaya. Kegiatan ini berlangsung di Aula Ma’had Aly Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada Jumat, 24 Oktober 2025.
Acara dibuka dengan pembacaan Surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ya Ahlal Wathon. Setelah itu, kegiatan berlanjut ke inti acara, yakni Diklat Konselor Sebaya yang dipandu oleh moderator.
Konselor sebaya merupakan individu yang telah dilatih untuk mendampingi, mendukung, dan membantu teman sebayanya dalam menghadapi berbagai masalah, baik akademik, sosial, maupun kesehatan mental. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat menjadi generasi yang peduli dan tangguh dalam menghadapi tantangan psikologis di lingkungannya.
Melatih Generasi yang Terkena Gejala Mental Health
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Muslihati menyoroti fenomena Generasi Z yang dikenal penuh kreativitas dan keceriaan, namun di sisi lain memiliki tantangan serius dalam hal kesehatan mental. Ia menjelaskan bahwa meskipun generasi ini terlihat kuat dan bersemangat, banyak di antara mereka memiliki ketahanan mental yang rapuh.
“Gen Z itu dikenal dengan generasi strawberry karena terlihat menarik, ceria, banyak ide, kreatif, tapi dibalik itu mental health-nya rapuh. Kenapa demikian? Ada kemungkinan karena kita hidup di serba mudah,” ujar Prof. Muslihati.
Lebih lanjut, beliau juga menegaskan bahwa beberapa sifat negatif yang sering dikaitkan dengan Generasi Z — seperti malas, boros, keras kepala, dan egois — tidak lepas dari pola pendidikan yang kurang tegas dan konsisten. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pembinaan karakter dan pendampingan psikologis yang lebih kuat agar generasi muda mampu menghadapi tantangan zaman dengan mental yang sehat dan tangguh.
Sebagai pakar Bimbingan dan Konseling Multibudaya, Prof. Dr. Muslihati juga menyoroti perlunya pendekatan multibudaya dalam layanan konseling di Indonesia. Beliau menekankan bahwa layanan bantuan dan penyembuhan (helping dan healing) tidak bisa hanya mengandalkan teori-teori Barat semata.
Menurut beliau, Indonesia memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal (seperti nilai-nilai dalam permainan tradisional seperti dakon yang mengajarkan ketelatenan dan sportifitas, atau falsafah Jawa seperti Weruh Sadurunge Winarah) yang dapat diintegrasikan ke dalam praktik Bimbingan dan Konseling untuk penguatan identitas diri remaja. Pendekatan ini relevan diterapkan di lingkungan pesantren seperti Bahrul Ulum yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dan keagamaan.
Peran Konselor Sebaya di Lingkungan Pesantren
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sendiri dikenal sebagai salah satu pondok pesantren tertua dan terbesar yang masih bertahan kuat di tengah perkembangan sistem pendidikan formal. Mengingat santri hidup dan belajar dalam lingkungan yang komunal selama 24 jam, peran Konselor Sebaya menjadi krusial sebagai garis pertahanan pertama (first-line support) dalam mengatasi isu-isu mental, sosial, dan akademik.
Kegiatan Diklat ini tidak hanya bertujuan melatih santri menjadi pendengar yang baik, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan untuk:
1. Mengidentifikasi teman sebaya yang mengalami kesulitan psikologis atau menghadapi masalah (early detection).
2. Memberikan dukungan emosional yang sesuai dengan norma dan nilai pesantren.
3. Membantu mengatasi masalah umum seperti stres akademik, penyesuaian diri di pesantren, hingga potensi gejala perundungan (bullying) yang menjadi perhatian di banyak lingkungan pendidikan.
Melalui Diklat ini, Pondok Pesantren Bahrul Ulum menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya unggul dalam pendidikan agama dan akademik, tetapi juga dalam kesejahteraan psikologis dan pembangunan karakter santri agar mereka menjadi generasi yang tidak hanya cerdas spiritual dan intelektual, tetapi juga bermental tangguh.
Oleh : Achmad Azzam Muzaki
Editor : Abdullah Machbub