TAMBAKBERAS.COM - Dalam rangkaian perayaan akbar dua abad Pondok Pesantren Bahrul Ulum, salah satu agenda penting yang dilaksanakan adalah Forum Multaqo Santri yang Salah Satu di dalamnya terdapat kegiatan “Diklat Tahqiq At-Turots.”
Para peserta diklat, yang terdiri dari santri-santri pilihan, dilatih secara mendalam dalam metodologi penelitian manuskrip. Ini mencakup proses membandingkan beberapa naskah (kopi) yang berbeda untuk mendapatkan teks asli (edisi kritis), menentukan penanggalan, dan memahami konteks sejarah serta biografi penulis naskah tersebut.
Kegiatan ini secara khusus diselenggarakan untuk melatih santri dalam menyunting dan meneliti warisan keilmuan naskah-naskah kuno (manuskrip) peninggalan ulama-ulama Islam terdahulu. Tujuannya adalah untuk melestarikan dan menggali kembali khazanah keilmuan Islam klasik.
Dibimbing Langsung oleh Pakar Filologi Islam
Diklat ini menghadirkan sejumlah pakar keilmuan Islam dengan pengalaman yang mendalam sebagai keynote speaker. Para pakar tersebut bertugas memberikan bimbingan mengenai metodologi yang tepat dalam meneliti manuskrip Islam warisan para ulama. Yakni:
Dalam sesi penyampaian materi, para narasumber tidak hanya fokus pada aspek teknis penyuntingan. Mereka juga memberikan pemahaman secara menyeluruh tentang ilmu filologi, mulai dari sejarah kemunculannya sebagai disiplin ilmu di dunia Islam hingga signifikansinya di era digital saat ini, seperti kapan istilah tahqiq muncul?, istilah ‘tahqiq’ baru dikenal sekitar tahun 1914 M melalui Ahmad Zaki Pasya, seorang filolog Mesir, istilah ini digunakan untuk memverifikasi ilmiah naskah kuno dalam penerbitan buku-buku Arab.
“Pada dasarnya, istilah ‘tahqiq’ sendiri dalam dunia barat juga ada, bahkan dikenal dengan filologi” Jelasnya.
Diklat ini menjadi bentuk nyata komitmen Pesantren Bahrul Ulum untuk terus menjadi garda terdepan dalam menjaga tradisi keilmuan Islam nusantara. Diharapkan, lulusan Diklat Tahqiq At-Turots ini akan menjadi motor penggerak pelestarian ribuan naskah kuno yang tersebar di berbagai perpustakaan pesantren dan koleksi pribadi ulama di Indonesia, sehingga khazanah Islam klasik tidak punah atau salah tafsir.
Dengan bekal kemampuan ini, para santri Bahrul Ulum siap mengemban peran sebagai peneliti muda yang akan membawa warisan peradaban Islam ke panggung ilmu pengetahuan modern.
“Dimulai dari pengumpulan naskah Al-Qur’an oleh sahabat Abu Bakar, sampai akhirnya membandingkan teks antar kitab yang sering disebut dengan muqobalah.” Tambahnya menerangkan sejarah perkembangan ilmu tahqiq.
Ilmu Tahqiq sangatlah penting, bahkan salah satu hasil dari ilmu tahqiq yang masih bisakita rasakan sampai saat ini adalah adanya al-Qur’an yang masih bisa kita baca setiap hari. Bayangkan jika tidak ada ilmu ini, mungkin Al-Qur’an tidak akan terbukukan secara rapi seperti sekarang.
OLeh : Ahmad Wijaya Zein
Editor : Abdullah Machbub