TAMBAKBERAS.COM - Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, merayakan usia dua abadnya dengan menggelar serangkaian kegiatan literasi dan intelektual. Acara yang dimaksud adalah Forum Multaqo Santri Nasional yang bertema "Santri dan Gerakan Sosial," dilaksanakan pada Jumat, 24 Oktober 2025, di halaman Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Acara yang berfokus pada penguatan kesadaran kritis dan peran santri dalam masyarakat ini diisi oleh narasumber utama, Dr. Bahrur Fuad, MA. Kegiatan ini menegaskan komitmen pesantren untuk tidak hanya menciptakan ahli agama, tetapi juga aktor perubahan sosial yang melek literasi.
Inspirasi dari Tokoh Pergerakan
Dalam diskusi tersebut, disampaikan bahwa sejarah pondok pesantren di Indonesia, yang didirikan oleh para wali dan ulama dengan metode sederhana, telah melahirkan tokoh-tokoh luar biasa. Salah satu tokoh pahlawan perempuan yang menjadi sorotan adalah Raden Ajeng Kartini.
Kartini disebut sebagai orang pertama yang mengajarkan membaca dan menulis bagi perempuan. Ia sendiri menimba ilmu dari KH. Sholeh Darat.
"Beliau sendiri belajar kepada Mbah Kiai Sholeh Darat yang mengajari mulai dari menulis, membaca, dan kesadaran kritis tentang eksistensi manusia yang merupakan inspirasi dari pondok pesantren," demikian yang disampaikan oleh beliau dalam forum tersebut.
Hal ini menekankan bahwa gerakan literasi dan kesadaran kritis telah menjadi benang merah pendidikan pesantren sejak awal kelahirannya, jauh sebelum istilah tersebut populer.
Nilai Warisan Kiai dan Tawaḍḍu' sebagai Kunci Ilmu
Dr. Bahrur Fuad, MA, dalam pemaparannya, menyoroti nilai-nilai esensial yang diwariskan oleh para kiai kepada santri melalui pendidikan di pesantren. Nilai-nilai ini dianggap sebagai fondasi karakter santri.
Pertama, adalah penguatan "nilai-nilai tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah an-nahdliyyah."
Kedua, adalah "nilai-nilai moral" yang kerap disalah artikan oleh pihak di luar lingkungan santri. Salah satu nilai moral yang paling mendasar adalah penghormatan terhadap guru dan konsep tawaḍḍu' (kerendahan hati) santri kepada kiai.
Narasumber menekankan perbedaan mendasar antara ketaatan santri dan kepatuhan dalam sistem feodal.
"Abdi dengan rajanya itu adalah ketundukan dan kepatuhan yang dikarenakan kekuasaan, relasi kekuasaan," jelas Dr. Bahrur Fuad.
"Tetapi kalau santri dengan kiai, itu relasinya tipe relasi antara guru dengan murid."
Tawaḍḍu' santri bukan didasarkan pada kekuasaan, melainkan pada prinsip pedagogis (sifat yang harus dimiliki seorang guru) dan spiritual.
"Dalam psikologi, seseorang yang ingin sukses dalam belajar itu hatinya harus kosong. Kosong dari kesombongan dan rasa tinggi," tambahnya.
Oleh karena itu, kerendahan hati menjadi syarat mutlak dalam mencari ilmu.
"Maka seorang santri haruslah tawaḍllu' untuk bisa belajar dan mendapatkan ilmu," tegasnya. "Dalam konteks ini, seorang santri yang ngesot (berjalan merangkak sebagai bentuk hormat) itu sebenarnya hanyalah pembelajaran untuk menanamkan rasa tawaḍḍlu' tersebut." Tambahnya,
Filosofi ini diperkuat dengan perumpamaan bahwa: "Ilmu itu ibarat air, dan air itu tidak mungkin naik ke atas," yang bermakna ilmu hanya akan mengalir ke hati yang rendah dan kosong dari kesombongan.
Melalui Multaqo Santri Nasional ini, Pondok Pesantren Bahrul Ulum berupaya memperkuat tradisi literasi kritis dan kesadaran sosial santri, memastikan bahwa nilai-nilai warisan kiai tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.
Oleh: M. Hafiz Romadhon
Editor: Adullah Machbub