TAMBAKBERAS.COM – Forum multaqoh santri nasional sesi ke dua diadakan pada siang hari Jum’at, 24 Oktober 2025. Sesi ke 2 dari total 5 sesi multaqo ini diadakan di 4 titik berbeda. Salah satunya adalah di Aula Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Dalam salah satu rangkaian acara menuju puncak acara 3 abad Bahrul Ulum ini, mengundang salah saatu narasumber hebat yakni Helmi Muhammad Noor yang merupakan CEO Cita Entertaiment, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang event organizer.
Media sosial adalah pisau bermata dua. Ia mampu menyemai kebaikan, menyatukan jutaan manusia untuk berkolaborasi dan menyebarkan hal-hal positif. Namun di sisi lain, platform ini juga menjadi lahan subur bagi hoaks, perpecahan, dan informasi yang mencerai-beraikan umat. Di tengah pertarungan narasi digital ini, muncullah sebuah tantangan besar: fenomena "Ustadz Medsos".
“Media sosial bisa menyatukan ribuaan, bahkan jutaan manusia untuk berbuat baik, saling berkolaborasi untuk menyebarkan hal-hal positif atau (media sosial juga) bisa mencerai beraikan manusia, saling menyebar hoax dan perbuakan buruk lainnya.” Ucapnya.
Fenomena Otoritas Agama Instan di Era Digital
Kita menyaksikan bagaimana media sosial kini dipenuhi oleh banyak pihak yang dengan mudah mendapatkan gelar "Ustadz" dari warganet, hanya karena mereka secara rutin memposting pengetahuan atau motivasi keagamaan. Tanpa disadari, publik—yang haus akan konten agama praktis—terlalu cepat melabeli dan menjadikan mereka panutan.
Fenomena ini mengingatkan pada peringatan almarhum Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) yang dikutip dalam acara ini:
“Akan tiba saatnya, orang yang tidak pernah belajar di pesantren tetapi mereka dianggap sebagai orang yang alim dan dijadikan rujukan serta panutan.”
Dilema Otoritas: Yang Salah Siapa?
Kemunculan penceramah instan ini menghadirkan dilema filosofis dan sosial. Ketika hasil ajarannya berpotensi menyesatkan, lantas siapa yang salah? Apakah mereka salah karena berinisiatif menyebarkan ilmunya di media sosial? Atau, apakah kita yang salah karena terlalu mudah dan tanpa filter memberi gelar keagamaan kepada siapapun?
Jawabannya terletak pada kebutuhan akan filter dan transmisi keilmuan yang sahih (sanad). Ilmu agama sejati membutuhkan proses panjang, riyadhah, dan sanad keilmuan yang sambung menyambung dengan para ulama terdahulu—sebuah tradisi yang dijaga ketat di pesantren. Sementara itu, "Ustadz Medsos" sering kali hanya menyajikan potongan-potongan dalil tanpa konteks yang mendalam, berpotensi menciptakan pemahaman agama yang dangkal dan sektarian.
Tugas Santri Milenial
Di sinilah Santri Milenial memiliki peran strategis dan mendesak. Para Kiai Sepuh dan ulama yang merupakan ahli di bidang agama dan penelaah Kitab Kuning, memiliki otoritas keilmuan yang kuat. Namun, faktanya, banyak dari mereka kurang terampil atau bahkan tidak terjamah oleh dunia media sosial.
Ruang digital yang seharusnya dipenuhi oleh konten-konten dakwah yang moderat, toleran, dan berlandaskan ilmu yang mapan, kini justru lebih banyak diisi oleh mereka yang tidak ahli.
Tiga Peran Kunci Santri Milenial:
1. Jembatan Digital: Santri Milenial wajib melek teknologi dan memanfaatkan media sosial (Facebook, YouTube, TikTok, Instagram) sebagai sarana dakwah. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan lautan ilmu para Kiai dengan audiens digital, menyajikan ilmu agama yang utuh dan kontekstual dengan format yang menarik bagi generasi muda.
2. Benteng Literasi Digital: Mereka harus menjadi filter dan penyeimbang di dunia maya. Dengan bekal ilmu yang didapatkan di pesantren, santri dapat melawan hoaks, narasi radikal, dan pemahaman agama yang menyimpang dengan menyajikan data dan argumentasi yang cerdas dan damai.
3. Membumikan Adab dan Ilmu: Kelebihan utama santri adalah tidak hanya belajar knowledge (pengetahuan) tetapi juga attitude (akhlak/adab). Santri Milenial harus mampu memproyeksikan nilai-nilai pesantren—tawadhu (rendah hati) dan keikhlasan—ke dalam setiap konten digital, mengingatkan publik bahwa esensi ilmu agama adalah keteladanan, bukan popularitas.
Media sosial adalah alat netral. Apakah ia akan menyatukan jutaan manusia untuk kebaikan atau mencerai-beraikan dalam kebencian, bergantung pada siapa yang menguasai narasi. Sudah selayaknya urusan agama, yang memerlukan kedalaman dan sanad, dikuasai oleh santri yang merupakan pewaris sejati ilmu Kiai. Jika para santri tidak segera mengambil peran, ruang digital akan terus dikuasai oleh 'pendakwah instan' yang berpotensi merusak tatanan keilmuan dan sosial umat.
Oleh : Abdullah Machbub