Tambakberas.com
Pondok Pesantren Bahrul Ulum, selasa (18/12) kedatangan tamu istimewa, kunjungan Presiden Republik Indonesia Bapak Ir. H. Joko Widodo. Bertempat di Gedung Serba Guna Bahrul Ulum, dengan memakai sarung dan peci hitam, kehadiran beliau disambut ribuan kerumunan masa yang terdiri dari Santri, Alumni, Dewan Guru, segenap Dzuriyah Bahrul Ulum, Masyarakat dan tokoh masyarakat. Nampak Gubernur Jawa Timur Ir H. Soekarwo, Ibu Bupati Jombang Hj. Munjidah Wahab, dan beberapa Pejabat Pemerintah serta Ketua Partai turut menyambut kedatangan beliau.
“ini adalah kunjungan Presiden Republik Indonesia, bukan sebagai calon Presiden, beliau kesini dalam rangka Silaturahim dengan santri, alumni, dzuriyah Bahrul Ulum, masyarakat dan tokoh masyarakat” terang Gus Wafi, Ketua Yayasan Bahrul Ulum.
Dikesempatan yang sama, Ketua forum komunikasi alumni Bahrul Ulum, Drs. KH. Fathul Huda yang juga sebagai Bupati Tuban, menyampaikan banyak terimakasih kepada Presiden Jokowi yang telah berani mengambil sikap tegas. Karena pembubaran organisasi yang tidak sesuai dengan tawasuth, tawazun, yang merupakan ajaran khas pesantren adalah sudah pas dan tepat.

Sementara Ibu Nyai Mahfudhoh Aly Ubaid, mewakili Dzuriyah Bahrul Ulum, menghaturkan matursuwun kepada bapak Presiden, karena sudah berkenan berkunjung di Pesantren Tambakberas, pesantren yang sudah didirikan oleh Mbah Sehah atau Kiai Abdus Salam sejak tahun 1825 M, pesantren yang sudah banyak menghasilkan alumni dan berkiprah di masyarakat, baik di ranah politik, sosial budaya maupun ekonomi kemasyarakatan, pesantren yang melahirkan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, yaitu Kiai Abdul Wahab Chasbulloh.
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi memaparkan beberapa hal, pertama, terkait dengan Kiai Wahab Chasbulloh sebagai pendiri Nahdlatul Ulama dan pejuang NKRI, bahwa Negara telah memberikan dan menganugerahkan gelar kepahlawanan sebagai bentuk pengakuan serta rasa terimakasih yang tak terhingga atas perjuangan beliau, demikan juga dengan Hari Santri Nasional (HSN). Kedua, didasari rasa kepercayaan pemerintah terhadap pesantren dan karena pesantren langsung bersentuhan dengan masyarakat, maka, dalam program ekonomi kerakyatan, Pemerintah mulai menggandeng pesantren dengan wujud Bank Wakaf yang dikelola oleh pesantren. Disisi lain pemerintah juga sangat memperhatikan keberlanjutan pesantren, maka dirumuskanlah UU Pesantren.

Presiden Jokowi bersama Dzuriyah Bahrul Ulum menyanyikan Mars Ya Lal Wathon
Presiden Jokowi juga menjelaskan secara gamblang terkait isu yang berkembang di masyarakat, tuduhan bahwa dirinya adalah PKI, antek asing, ditolak tegas dengan senyuman dan nada guyon. Kepemilikan Blok Mahakam, Blok Rokan Riau, Komposisi 51% Saham Freeport oleh pemerintah dipaparkan santai menangkis semua tuduhan.
“Sudah puluhan tahun blok-blok itu dikuasai asing, Blok Mahakam hampir 30 tahun lebih, Blok Rokan 90 tahun, hari ini sudah jadi miik pemerintah, Freeport hari ini juga kita pemilik 51% sahamnya, begitu kok dibilang antek asing. Isu saya adalah PKI, anaknya PKI, saya ini baru berusia 4 tahun ketika PKI dibubarkan, masak ada PKI Balita? Soal anaknya PKI, jaman sekarang informasi sudah terbuka luas, silahkan di cek di masjid-masjid disekitar rumah bapak saya, kakek saya, disana ada NU, Muslimat, Muhammadiyah, silahkan di cari informasinya, saya nggak marah lho.. saya hanya menjelaskan, karena lama-lama masyarakat termakan isu yang berkembang ngga karuan”. Spontan para hadirin yang memadati gedung serba guna Bahrul Ulum tertawa sembari kasih upplause meriah.
“Kita ini bangsa besar, terdiri dari 17 ribu pulau, 714 suku, 260 juta jumlah penduduknya, tentu ada perbedaan adat istiadat dan bahasa. Perbedaan ini sudah Sunnatulloh, garis dari tuhan, maka, mari kita jaga kita rawat. Tahun ini adalah tahun politik, mari kita berpolitik secara santun, beretika dan penuh tatakrama”. Beliau mengakhiri sambutan sambil mengajak tetap menjaga keutuhan NKRI, kebhinekaan, keberagaman suku dan adat istiadat. (Az)