Dalam rangka memperingati dua abad Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, digelar Simposium Paralel 30 Profesor Alumni PPBU sebagai ruang refleksi perjalanan panjang sekaligus proyeksi masa depan pendidikan pesantren di Indonesia. Acara yang menjadi bagian dari rangkaian besar peringatan 200 tahun Bahrul Ulum ini berlangsung di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, pada Rabu, 15 Oktober 2025.
Forum ilmiah tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting dunia pesantren, di antaranya Ketua RMI PBNU KH M. Khodri Arif, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Zainuddin, dan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Evi Fatimatur Rusydiyah.
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Wafiyul Ahdi, menegaskan bahwa capaian dua abad ini merupakan bukti kuat ketahanan dan kemampuan pesantren dalam menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
“Peringatan dua abad ini momen yang sangat bersejarah, karena kita tidak akan menyaksikan abad berikutnya. Melalui simposium ini, kami ingin mengajak para tokoh pesantren berdialog mengenai arah transformasi pesantren di masa depan,” ujarnya.
Isu transformasi pesantren menjadi bahasan utama dalam forum tersebut. Menurut KH M. Khodri Arif, perubahan menjadi keharusan agar pesantren tetap relevan di tengah derasnya arus modernitas.
“Tidak semua pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Masih ada yang berjalan dengan cara lama. Namun di sisi lain, kita juga harus tetap berpijak pada nilai-nilai akidah, fikih, dan tradisi pesantren yang menjadi akar identitas kita,” terangnya.
Beliau menambahkan bahwa transformasi pesantren dapat diwujudkan melalui enam klaster utama: pengasuhan, kurikulum, sumber daya manusia, tata kelola, kelembagaan, dan infrastruktur.
Sementara itu, Prof. Zainuddin menyoroti keunggulan sistem asrama di pesantren yang mampu membentuk karakter santri secara utuh.
“Sistem asrama dengan kehidupan 24 jam di dalamnya sangat efektif dalam membentuk kebiasaan dan nilai sosial. Tidak berarti belajar tanpa henti, tapi melalui sistem itu santri belajar hidup bermasyarakat. Bahkan kini, beberapa UIN di Indonesia mulai meniru model tersebut,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Evi Fatimatur Rusydiyah mengungkapkan betapa besar pengaruh pesantren dalam membentuk dirinya.
“Bagi saya, pesantren adalah puncak dari segitiga emas kehidupan. Nilai-nilai yang saya dapat di pesantren menjadi fondasi karakter dan nilai diri saya hingga hari ini,” tuturnya
Melalui simposium ini, para alumni dan tokoh pesantren sepakat bahwa pesantren harus terus bertransformasi tanpa kehilangan jati diri, agar tetap menjadi pelopor pendidikan moral dan spiritual bangsa di tengah perubahan zaman.